“Masih punya koleksi Mira S?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut saya ketika bertemu sahabat masa kecil, Yanto, di sebuah hajatan warga di desa kami. Suasana siang itu cukup ramai. Di bawah tenda sederhana yang dipasang di halaman rumah salah satu warga, orang-orang bercengkerama sambil menikmati hidangan. Anak-anak berlarian ke sana kemari, sementara para orang tua sibuk berbincang tentang kehidupan sehari-hari.
Yanto yang duduk di samping saya langsung tertawa kecil.
“Ha... ha... ha...,” jawabnya sembari menggelengkan kepala.
Tawa itu bukan sekadar jawaban. Ada nostalgia yang seolah ikut keluar bersama gelak ringannya. Saya pun ikut tersenyum. Nama Mira S memang seperti pintu yang membuka kembali lorong panjang kenangan masa lalu, terutama bagi mereka yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an.
“Sudah tidak ada,” katanya kemudian. “Entah ke mana semua buku itu sekarang.”
Perbincangan kami pun mengalir. Dari sekadar menanyakan koleksi novel lama, kami kemudian terlempar jauh ke masa kecil yang sederhana namun penuh cerita.
Pada era 1990-an, kehidupan anak-anak desa sangat berbeda dengan kehidupan generasi sekarang. Saat itu, hiburan bukanlah sesuatu yang mudah didapat. Tidak ada internet yang bisa diakses kapan saja. Tidak ada media sosial yang membuat orang bisa terhubung dengan siapa pun hanya melalui sentuhan jari. Bahkan telepon genggam masih menjadi barang mewah yang hampir mustahil dimiliki masyarakat biasa.
Karena itulah, buku menjadi salah satu sumber hiburan utama.
Novel-novel karya Mira S, Marga T, atau penulis populer lainnya sering berpindah tangan dari satu pembaca ke pembaca lain. Majalah remaja, tabloid hiburan, hingga komik-komik bekas menjadi barang yang sangat berharga. Satu buku bisa dibaca berkali-kali sampai sampulnya kusut dan halamannya mulai menguning.
Bagi anak-anak, komik adalah dunia yang penuh keajaiban. Tokoh-tokoh seperti Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, hingga Ninja Hattori menjadi teman yang menemani sore hari setelah pulang sekolah. Tidak semua anak mampu membeli komik baru. Karena itu, budaya saling meminjam sangat kuat.
Kadang seseorang rela berjalan beberapa kilometer hanya untuk meminjam satu komik dari temannya. Setelah selesai dibaca, komik itu dikembalikan dengan hati-hati agar tidak rusak. Jika sampai sobek atau hilang, bisa menjadi persoalan serius yang memicu pertengkaran kecil antarteman.
Selain buku dan komik, hiburan lain yang paling ditunggu adalah menonton televisi.
Namun televisi pada masa itu jauh berbeda dengan sekarang. Banyak keluarga di desa kami masih menggunakan televisi hitam putih. Layarnya kecil, gambarnya kadang bersemut, dan suara antenanya sering terganggu ketika hujan turun atau angin bertiup kencang.
Pilihan siarannya pun sangat terbatas.
TVRI menjadi satu-satunya stasiun televisi yang bisa dinikmati sebagian besar masyarakat. Ketika siaran dimulai, anak-anak dan orang tua berkumpul di depan televisi. Tidak ada banyak pilihan acara, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya. Apa pun yang ditayangkan akan ditonton bersama-sama.
Acara anak-anak menjadi tontonan favorit. Film kartun yang muncul seminggu sekali terasa begitu istimewa. Ketika program kesukaan selesai tayang, kami harus menunggu hingga pekan berikutnya untuk bisa menontonnya lagi.
Tidak ada layanan streaming yang memungkinkan menonton ulang kapan saja.
Semua serba menunggu.
Dan anehnya, justru karena harus menunggu itulah rasa antusias menjadi jauh lebih besar.
Selain televisi, hiburan yang paling meriah adalah pemutaran video kaset keliling.
Generasi sekarang mungkin sulit membayangkan bagaimana satu acara pemutaran video bisa menjadi peristiwa besar bagi sebuah kampung. Saat itu, seseorang yang memiliki pemutar VHS dan televisi berukuran besar bisa menjadi pusat perhatian warga.
Biasanya, sebuah rumah akan mengadakan pemutaran film pada malam hari. Warga berdatangan membawa tikar atau bangku kecil. Anak-anak duduk di bagian depan, sementara orang dewasa mengisi bagian belakang.
Untuk bisa menonton, setiap orang cukup membayar sekitar Rp50.
Jumlah yang sangat kecil jika dilihat dari masa sekarang, tetapi cukup berarti pada waktu itu.
Film yang diputar beragam. Ada film laga, komedi, film silat Mandarin, hingga film-film Indonesia yang sedang populer. Meski kualitas gambar sering buram dan suara kadang tidak jelas, tak seorang pun mengeluh.
Yang dicari bukan hanya filmnya, melainkan kebersamaan.
Tawa yang pecah serentak ketika adegan lucu muncul menjadi hiburan yang sesungguhnya.
Yanto kemudian berkata bahwa anak-anak zaman sekarang mungkin tidak pernah merasakan nikmatnya hidup tanpa gawai.
Saya mengangguk setuju.
Anak-anak pada era 1990-an tumbuh tanpa gadget. Tidak ada telepon pintar yang menemani sejak bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Tidak ada notifikasi yang terus berbunyi. Tidak ada media sosial yang membuat orang sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Kami tumbuh apa adanya.
Kami mengenal dunia melalui pengalaman langsung, bukan melalui layar.
Sepulang sekolah, tas dilempar begitu saja ke dalam rumah. Setelah berganti pakaian, kami langsung keluar bermain bersama teman-teman.
Halaman rumah warga menjadi arena bermain yang tak pernah sepi.
Di sana kami bermain petak umpet, gobak sodor, bentengan, kelereng, gasing, layang-layang, hingga sepak bola menggunakan bola plastik yang kadang sudah tambal sulam di sana-sini.
Permainan itu tidak membutuhkan baterai, kuota internet, ataupun jaringan Wi-Fi.
Yang dibutuhkan hanya teman dan semangat untuk bermain.
Ketika musim layang-layang tiba, langit desa dipenuhi warna-warni. Anak-anak berlarian di pematang sawah sambil menggenggam benang. Ada kebanggaan tersendiri ketika layang-layang berhasil terbang paling tinggi atau memenangkan adu benang dengan layangan lain.
Saat musim hujan datang, permainan berganti.
Sungai menjadi tempat favorit.
Air yang jernih mengalir di antara batu-batu kecil. Kami mandi, berenang, menangkap ikan kecil, atau sekadar bermain arus. Terkadang orang tua memarahi kami karena pulang terlalu sore atau pakaian terlalu kotor.
Namun keesokan harinya, kami tetap kembali ke sungai.
Begitulah masa kecil berjalan.
Sederhana, tetapi penuh kebebasan.
Kebun-kebun di sekitar kampung juga menjadi ruang petualangan yang luar biasa. Kami menjelajahi semak-semak, mencari buah liar, memanjat pohon jambu, atau berburu belalang. Kadang kami pulang dengan kaki lecet atau lutut tergores, tetapi itu tidak pernah mengurangi semangat untuk bermain lagi.
Tidak ada istilah bosan.
Setiap sudut kampung selalu menawarkan petualangan baru.
Yang menarik, kehidupan tanpa internet ternyata membuat hubungan sosial terasa lebih dekat. Anak-anak mengenal hampir semua teman sebaya di kampung. Kami tahu rumah mereka, mengenal orang tuanya, bahkan sering makan bersama di rumah satu sama lain.
Persahabatan dibangun melalui pertemuan langsung, bukan melalui ruang obrolan virtual.
Jika ingin mengajak bermain, kami harus datang ke rumah teman dan memanggil namanya dari depan pagar.
Jika ingin meminta maaf setelah bertengkar, kami harus bertatap muka.
Semua terasa lebih nyata.
Tentu bukan berarti masa lalu selalu lebih baik daripada masa kini. Teknologi telah membawa banyak kemudahan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Informasi bisa diperoleh dalam hitungan detik. Pendidikan menjadi lebih mudah diakses. Komunikasi jarak jauh tidak lagi menjadi hambatan.
Namun, di tengah segala kemajuan itu, ada beberapa hal yang perlahan mulai hilang.
Salah satunya adalah kemampuan menikmati kesederhanaan.
Anak-anak masa kini memiliki akses hiburan yang hampir tak terbatas. Ribuan video tersedia setiap saat. Permainan digital hadir dalam berbagai bentuk. Dunia ada di dalam genggaman mereka.
Tetapi sering kali, mereka kehilangan pengalaman merasakan kebahagiaan dari hal-hal kecil yang dahulu begitu akrab bagi generasi kami.
Kebahagiaan menemukan komik baru untuk dipinjam.
Kebahagiaan menunggu acara televisi favorit.
Kebahagiaan bermain hingga senja tanpa memikirkan baterai ponsel.
Kebahagiaan bercengkerama bersama teman-teman tanpa gangguan layar.
Perbincangan saya dengan Yanto siang itu akhirnya terhenti ketika panitia hajatan mulai memanggil tamu untuk menikmati hidangan. Namun kenangan yang muncul dari percakapan singkat tersebut terus membekas di benak saya.
Mungkin koleksi novel Mira S milik Yanto memang sudah hilang. Mungkin televisi hitam putih yang dulu menjadi pusat hiburan keluarga juga sudah lama rusak atau dijual. Mungkin video kaset yang pernah membuat satu kampung berkumpul bersama kini hanya menjadi barang antik yang berdebu di sudut gudang.
Tetapi kenangan tentang semua itu tetap hidup.
Ia hidup dalam cerita-cerita yang sesekali muncul ketika sahabat lama bertemu. Hidup dalam tawa yang mengiringi ingatan masa kecil. Hidup dalam nostalgia tentang sebuah zaman ketika hidup berjalan lebih lambat, lebih sederhana, dan terasa lebih dekat.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat bergerak hari ini, kenangan seperti itulah yang sesekali perlu kita buka kembali. Bukan untuk menolak kemajuan, melainkan untuk mengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari teknologi yang canggih atau hiburan yang mahal.
Kadang-kadang, kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sebuah komik pinjaman, televisi hitam putih, sungai kecil di pinggir kampung, atau percakapan hangat dengan sahabat lama yang tiba-tiba mengingatkan kita pada masa kecil yang tak akan pernah kembali. **
